Adat  

Nagari Pangian

FIKIR.ID – Nagari Pangian, dari perspektif adat budaya boleh dijadikan referensi. Kemasyhurannya bersamaan dengan kebesaran Datuk Tangkaiyo Tuanku Rajo Manyusun Alam sebagai Rajo Adat Alam Minangkabau. Rajo Adat membangun Rumah Gadang Adat pertama di Padang Sikurimbang. Kemudian dikenal Rajo Adat di Buo, justru setelah Padang Sikurimbang, beristana di (Nagari) Buo, sebuah Nagari pula di Kecamatan Lintau Buo. Tidak jauh kalau menurun dari Padang Sikurimbang, sampai di Buo.

Monografi Nagari Pangian

Secara monografik Nagari Pangian ini, di antaranya mengambil nomenklatur dari fenomena sebuah gua di sana. Gua ini bernama Gua Panungian (min, peng-h-unian) atau Panagian (min, penangisan) dan atau Paranginan (min, peranginan). Diceritakan, moyang mereka pernah tinggal di gua ini, lalu kawasan itu disebut Pangian. Disebut juga suatu ketika moyang Nagari ini bersedih, mereka menangis senagari, panagian (negeri penagisan), lalu nagari ini disebut Pangian. Dikisahkan pula seorang raja dimungkinkan Raja Adat berkunjung dan beristirahat di gua yang pengahawaannya menyegarkan dengan angin yang cukup (peranginan). Lalu dari kata peranginan itu menjadi pangian dan dinamakan kawasan nagari ini dengan nomenklatur Nagari Pangian. Wallahu a’lam!


Nagari Pangian berpenduduk 3.496 jiwa dengan 810 KK (2017). Luasnya 4,6 km² atau 7.64 % luas wilayah Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Orbitasinya pada ketinggian: 400-450 m di atas permukaan laut dan berjarak 37 km dari Batu Sangkar ibu Kabupaten Tanah Datar.
Dari perspektif pemerintahan, Nagari Pangian memiliki 6 Jorong. Keenam jorong itu: (1) Jorong Patameh, (2) Jorong Tago Palange, (3) Jorong Koto Kociek, (4) Jorong Sawahan, (5) Jorong Lubuk Batang, dan (6) Jorong Koto Gadang.


Beberapa kali berjunjung ke Pangian, terkesan nagari yang bersejarah besar di Sumatera Barat. Satu kali DPMD Sumatera Barat menugaskan saya bersama Akral, Bundo Yang DiPertuan Gadih Pagaruyung Bundo Prof. Raudha Thaib lainnya. Tugas menilai KAN Pangian dinyatakan sebagai Organisasi Adat KAN terbaik di Sumatera Barat tahun 2020.

Tak khayal, kehebatan Nagari Pangian, tahun 2020 itu yang organisasi adatnya KAN dinyatakan KAN Terbaik No. 1 di Provinsi Sumatera Barat. Tak terkalahkan oleh 4 KAN pada 4 nagari lainnya yang dinilai ketika itu. Empat KAN itu: KAN Nagari Pauh IX Padang, KAN Nagari Talaok Bayang Pesisir Selatan, KAN Nagari Aia Manggi Pasaman, dan KAN Nagari Pulau Punjung.

Tahun 2022 ini dua kali berkunjung ke Nagari Pangian (4 September dan 23 Oktober), diundang Ketua KAN BS Dt. Parpatih. Diundang dalam kapasitas Tim SAKO’s Journey 23 Oktober, mengulangi mencari nan tasuruak di balik nan tasurek pada Tambo, menyangkut asal usul di Minangkabau.

Memarik menelusuri jejak perjalanan Raja Adat dan Raja Ibadat. Rajo, membangun pemukiman Taratak dengan rumus Undang Adat nan-20. Ada Taratak nan-8 dipersilahkan Rajo Adat dihunyi ninik nan-8 di wilayah dataran tinggi sekitar Talago dan Taratak nan-12 tak jauh dari wilayah hilir/ selatan ditempatkan Rajo Adat dan Rajo Ibadat ninik nan-12. Kemudian Rajo Adat ke Pangian seperti sebelumnya disebut membangun Rumah Adat pertama di Padang Sikurimbang dan menanam batu didisain sisi tiga datar di atas menyimbolkan tempat duduk rajo tigo selo: Rajo Adat, Rajo Alam dan Rajo Ibadat.

Jejak Rajo Adat di Pangian

BS Dt. Parpatiah sharing GG Dt. Perpatiah ceritnya menarik untuk ditelusuri jejak Rajo Adat membangun Nagari Pangian dan menyusun adat. Puti Mayang Terurai, dkk (2003) juga memaparkan jejak Raja Adat di samping lebih khusus memaparkan Sejarah Nagari Pangian dan Rajo Adat. Menarik diresek (research) ulang jejak Raja Adat itu, namun jelas membutuhkan waktu dan kedalaman pengalaman dan kepiawaian metodologi. Siapa tahu generasi peneliti piawai sesudah ini meneliti lebih lanjut dan mendalam, tentu Nagari Pangian menanti dengan senang hati.

Di antara jejak perjalanan Raja Adat awal menyusun adat di Nagari Pangian dan nagari sekitar Pangian seperti dipapar BS Dt. Perpatih dan tulis Puti Mayang Terurai, dkk sudah memetakannya. Boleh ditelusuri dari awal kawasan (1) Sihujan Paneh, (2) Rona/ Ranah Guguk Malintang, (3) Batang Air Simila (awalnya dari bismillah meminum airnya), (4) Daerah Sumur Cirano, (5) Telago Duo, (6) Telago Sitinjau, (7) Telago Sikabuik, (8) Gelanggang Tenggi, (9) Alahan Rajo, Padang Sikurimbang, Rumah Pertama Rajo Adat, (110 Batu Sandaran Rajo, (12) Kampung Ibuang, (13) Kuburan Ibunda Rajo Adat, (14) Kepala Sawah, (15) Ngalau Batu Pangian, (16) Daerah Perumahan Kedua Rajo Adat, (17) Rumah Kampung Anau, (18) Balai Adat Nagari Pangian, (19) Mesjid Gadang Adat 4 Koto Nagari Pangian), (20) Kandang Harimau, (21) Kampung Gadang Buo, (22) Rumah Gadang Hulubalang Rajo, (23) Balai Gadang Buo, (24) Surau Gadang Buo, (25) Parak Gadang, (26) Batu Bersurat, (27) Pintu Gerbang Kelumpang, (28) Koto Panjang, (29) Patame, (30) Gelanggang Permedanan Rajo Adat, (31) Ustano Buo, (32) Tigo Jangko (sebuah Nagari di Kecamatan Lintau Buo), (33) Nagari Taluk (sebuah Nagari di Kecamatan Lintau Buo), (34) Sitangkai, (35) Batang Air Sangki, (36) Batang Air Sinamar, (37) Batang Air Selo, dan (38) Batang Air Pangian lainnya.

Tempat dan kawasan ini menarik bagi pemerhati sejarah, termasuk para pengunjung wisatawan domestik dan wisata manca negara. Dalam kunjungan 23 Oktober lalu, BS Dt. Perpatih membawa SAKO’s Journey melihat kompleks Ustano Rajo Buo. Mengesankan bahwa negeri ini beraja-raja di samping berpenghulu. Juga dibawa ke Balai Adat tempat persidangan raja, menandai rajo adil rajo disambah.

Dalam pelaksanaan dan pengawasan jalannya adat syara’ di Nagari Pangian, sudah disusun para pemangku adat sayara’nya sedemikian rupa. Rajo adat tidak serta merta menyerahkan urusan pelaksanaan dan pengawasan jalannya adat kepada ninik mamak saja. Bahkan sudah disusun sedemikian rupa para pemangku, mulai dari susunan pejabat Rajo Tigo Selo Nagari Pangian sampai kepada susunan jabatan dua penghulu adat syara’ Nagari Pangian.

Susunan pejabat Rajo Tigo Selo Nagari Pangian, (1) Penghulu Rajo Tigo Selo: (a) gelar kebesaran adat Dt. Tangkaiyo, (b) sandi padek tanah kerajaan : Rumah Gadang Kampuang Anau, ( c) suku: Caniago dan (d) kampuang : Lubuk Batang. (2) Malin Rajo Tigo Selo: (a) gelar kebesaran adat: Engku Bagindo Said, (b) Sandi padek tanah kerajaan: rumah baru, (c ) suku yang ditunjuk: Tapi Air, (d) kampuang: Koto Kociek. (3) Dubalang Rajo Tigo Selo: (a) gelar kebesaran adat: Rajo Mangkuto, (b) sandi padek tanah kerajaan : kapalo koto, (c ) suku yang ditunjuk: melayu, dan (d) kampuang: Koto Kociek.

Sedangkan susunan dua penghulu Nagari Pangian: (1) Penghulu Adat Nagari Pangian: (a) Gelar kebesaran adat: Dt. Tanaro, (b) Sandi padek tanah kerajaan: rumah gadang Kampung Anau, (c ) Suku yang ditunjuk: Caniago dan (d) Kampung: Lubuk Batang. (2) Penghulu Syara’ Nagari Pangian: (a) Gelar kebesaran adat: Dt. Bandaro Sutan, (b) Sandi padek tanah kerajaan: rumah gadang Tago Palange, (c ) Suku yang ditunjuk: Pangian Kociek dan (d) Kampung: Kampung Tangah.

Selain susunan penghulu di Nagari Pangian itu, juga ada lembaga jabatan pemangku adat korek (karatan) mudik Nagari Pangian yang terdiri dari penghulu dan dubalang adat. Juga ada lembaga jabatan pemnagku adat ninik mamak nan baka-ampek suku Nagari Pangian yeng terdiri dari penghulu dan malin adat. Menarik dipelajari. Kita menanti anak muda piawai meniliti dan menganalisisnya seperti apa betul kehebatan adat Minang di Nagari Pangian ini. **