FIKIR.ID – Gema takbir memenuhi langit dunia sampai ke persada bumi Indonesia di daerah kita. Mengagungkan Allah sejak malam sampai pagi idulfitri ini.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahi l-hamd
Semoga pagi idulfithri, kita sudah berada dalam perubahan besar. Adalah perubahan dalam kualitas keimanan. Awalnya keimanan kita berada pada tahap diuji dengan berbagai perbuatan kebaikan (al-birr, البرّ). Ujiannya termasuk melakukan ketaatan dan ibadah “shiyam” (الصيام, puasa) Ramadhan serta ibadah malamnya “qiyamullail” (قيام اليل) dengan banyak amalan sunat/ “nawafil” (النوافل), untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Puasa dan mendirikan malam itu memerlukan iman dan “ihtisab” (ketulusan dengan kemampuan memuhasabah diri). Sabda Rasulullah SAW content riwayat Al-Bukhari: “Man shaama wa qaama ramadhana gufira lahu min dzambih” (مِنْ صَامَ وقام رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ). Lolos dari ujian keimanan itu, dijanjikan tingkat ketaqwaan kuat. Inilah perubahan besar itu, yakni tingkat keimanan muttaqin (beriman dan bertaqwa) yang kita harapkan. “La’allakum tattaqun” (mudah-mudahan kamu senantiasa menjadi orang bertawqa).
Ketakwaan inilah tingkat kualitas manusia termulia. “Sesungguhnya orang yang paling mulia ditandai dengan taqwanya”. Reward (balasan) bagi orang bertaqwa adalah surga. Karena surga khusus disediakan bagi orang betaqwa (“Al-jannatu u’iddat lilmuttaqin, الجنة أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ).
Alhamdulillah. Semoga Allah menerima kita kembali ke fitrah (suci dan beriman). Dalam keadaan kita sudah kembali ke fitrah kita, ada dua hal yang senantiasa kita lanjutkan spirit Ramadhan. (1) Senantiasa ramaikan masjid dan (2) taingkatkan kesalehan amal.
1.Meramaikan dan atau memakmurkan masjid, adalah tanda orang beriman (QS. At-Taubah:17). Kemauan meramaikan masjid ini, selain bukti kesan berhasilnya Ramadhan “hati tergantung di masjid untuk ibadah”, juga sejalan dengan semangat makna “idulfithri” satu sisi diartikan hari raya kembali ke fitrah “janji beriman hanya kepada Allah”. Karenanya selepas Ramadhan dan idulfitri ini, jangan sampai jauh pula masjid berbanding tempat kita bekerja.
Justru di bulan ramadhan, telah diuji iman kita dengan melaksanakan ajakan puasa dan menegakan malamnya di masjid. Memenuhi ajakan menyempurnakan puasa (mengqadha jika ada yang tertinggal karena sakit, musafir dan atau lemah). Sekaligus melaksanakan ajakan, mengagungkan Allah sesuai petunjukNya. Itu, tanda, bagi kita, bersyukur kepadaNya. Firman Allah:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: … hendaklah kamu cukupkan bilangannya (menunaikan dan mengqadha puasamu) dan kamu angungkanlah Allah sesuai petunjukNya, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-BAqarah:185).
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahi l-hamd
2.Meningkatkan kesalehan amal serta menjaga dan memfungsikan iman mendasari hidup dan kehidupan. Kita, semoga telah berada dalam perubahan besar, keimanan kita sudah teruji dan kuat. Terus kita tingkatkan lebih. Menimal kita pertahankan tingkat taqwa kita itu dengan memelihara iman dan kesalehan amal. Caranya ada 3 perjuangan.
a.Senantiasa meng-update iman kita, “jaddidu imanakum” (perbaharuilah imanmu). Karena menurut ahli Sunnah dan Hadis, bahwa iman selalu pluktuasi (naik – turun). Iman naik/ bertambah ditandai dalam perkataan dan perbuatan dengan “thaat” (أنَّ الإيمانَ قولٌ وعَمَل، يزيد بالطاعة). Iman turun karena berbuat “maksiat” (يَنْقُص بالمعصية). Karenanya tingkatkan ketaatan dan tinggalkan maksiat.
b.Kejar segera maghfirah Allah (سَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ ),
c.Segera kejar surga yang dibentangkan seluas langit dan bumi disediakan khusus bagi orang bertaqwa (جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ ).
Allah Ta’ala berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya: … dan segeralah kami merebut keampunan Tuahnmu dan surga yang areal bentangannya seluas langit dan bumi, disediakan untuk orang bertaqwa (QS. Ali Imran:133).
Orang yang sudah berada pada tingkat kualitas iman dan taqwa yang tinggi serta kepadanya dijanjikan surga, ada 4 tradisi/ kebiasaan. Dan, kebiasaan mempertahankan dan melakukan yang 4 itu sekaligus dapat mengetuk pintu surga. Disebut, justru surga itu diibaratkan Nabi SAW, terkunci dari dalam. Ada sabdanya dalam satu hadis ketika memasuki Madinah. Isinya mencakup 4 hal yang ditradisikan/ dibiasakan sebagai kesalehan amalan (صالح الاعمال) dan itu dapat mengetuk pintu surga. Sabdanya:
أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشوا السَّلامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصَلُّوا باللَّيْل وَالنَّاسُ نِيامٌ، تَدخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلامٍ
Artinya:
Wahai manusia tebarkan salam di antara kalian, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi dan sholatlah ketika manusia tidur malam, niscaya kalian akan masuk surga dengan nyaman. (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).
1)Afsussalam (أَفْشُوا السَّلَامَ), artinya suka menebar damai (salam). Prakteknya menjadikan tradisi kita “senang memberikan ucapan selamat (tahni’ah) dan ucapan salam. Lafalnya “assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh”. Salam diberikan kepada orang yang dikenal dan orang tidak dikenal. Orang yang dikenalnya ialah lebih didahulukan kepada orang tua. Karena orang tua tidak sekedar dikenal. Justru sesudah Allah dan Rasulnya baru orang tua patut dihormati dan disayangi. “Siapa yang lebih duluan memberi salam, Allah membangunkan rumah indah di surga”, Pernah Abu Bakar dan Umur, mentradisikan ucapan salam setiap berjumpa. Abu Bakar senantiasa lebih dahulu memberi salam kepada Umar.
Sekali waktu, Abu Bakar tidak memberi salam lebih duluan kepada Umar. Umar menduga, Abu Bakar berubah, tak memberinya salam. Hiba hati Umar dan mengadu kepada Rasulullah dengan menangis. Ia membatin, “apa gerangan Abu Bakar tak lagi memberi salam kepadaku”, pikir Umar.
Lalu Nabi memanggil Abu Bakar. Di depan Rasulullah, Abu Bakar tersenyum. Apa gerangan? Lalu Abu Bakar menjawab: “Aku mengingat sabda engkau ya Rasul, siapa yang duluan memberi salam ia dibangunkan rumah di surga. Satu kali berjumpa, aku tidak memberi salam kepada Umar. Yang ku mau, memberi kesempatan kepada Umar lebih duluan memberi salam kepada ku. Ku ingin menghadiahi Umar, sebuah rumah yang indah di surga dibangunkan oleh Allah SWT”.
Lalu Rasul tersenyum, Umarpun lega dan mereka berpelukan, sambil beristighfat. Ini reward (hadiah) bagi orang yang mentradisikan memberi salam kepada semua orang, dikenal atau tak dikenal.
2)Ath’imu l-Tha’am (وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ) artinya hendaklah menjadikan kebiasaan senang menjamu/ memberi makan. Sebagai tanda berbuat kebaikan (al-birr), teruji memberikan harta yang kita cintai. Dimulai untuk karib kerabat kita, sebelum kepada yang berhak lainnya. Firman Allah SWT:
وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ
Artinya: … dan (kebaikan itu adalah senang) memberikan harta yang dicintainya (prioritas pertama) kepada kerabat. QS. Al-Baqarah: 177
Pada event Idulfithri, sebenarnya sudah ada kebiasaan kita, “menyediakan makanan bagi yang datang ke rumah kita” dan “mengantarkan makanan kepada kerabat”. Keraat itu dalam adat Minangkabau, ada 8 bentuk dalam 2 perspektif. Pertama kerabat dalam perspektif hubungan perkawinan ada 4: (1) Kerabat tali nasab (anak-ayah dan bako/ keluarga ayah) dari suami, (2) Kerabat tali rahim (ibu/ suku: kamanakan – mamak – kaum/ keluarga ibu) dari suami, (3) Kerabat tali nasab (anak – ayah – bako/ keluarga ayah) dari istri, dan (4) Kerabata tali rahim (ibu/ suku: kamanakan, mamak – kaum/ keluarga ibu dari isteri.
Kedua, kerabat dari perspektif tali rahim, yakni kaum/ keluarga ibu: (1) Kerabat Sapiah Balahan, ialah turunan keluarga ibu di negeri lain, (2) Kerabat Kapak Radai, ialah mekaran turunan ibu di negeri lain, (3) Kerabat Kuduang Karatan, ialah turunan saudara ibu yang laki-laki (mamak) di negeri lain dan (4) Kerabatan Timbang Pacahan ialah mekaran turunan saudara ibu yang laki-laki (mamak) di negeri lain.
Tradisi menyediakan dan mengantarkan makanan bagian dari cara merekat hubungan kerabat tali rahim (di garis ibu) dan tali nasab (di garis ayah). Ibu-ibu muslimah salehah dan kuat adat Islami (adat syara’), mentradisikan menyediakan bermacam makanan di hari raya dan mengantarkannya ke rumah kerabat.
“Menyediakan makanan idulfithri, untuk menanti dan menjamu semua (delapan) kerabat yang jauh datang dan yang dekat tiba”. Mengantarkan makanan, misalnya “pihak tali rahim/ ibu, adalah manjalang mamak mengantarkan makanan idulfithri” dan atau “manjalang pihak tali nasab/ bako keluarga ayah, adalah manjalang bako, mengantarkan makan fithri”. Seorang ibu di hari pertama idulfitri menginatkan anaknya: “kapan kalian manjalang mamak?”, dan “kapan kalian manjalang bako?”. Manjalang mamak saudara laki-laki ibu, maka kamanakan membawa kue idulfitri. Demikian manjalang bako keluarga ayah, juga membawa kue. Balik ke rumah baik mamak/ isteri atau pun bako/ bibi, memberi sesuatu pula kepada kepada anak yang manjalang tadi. Tanda elok baso orang Minang.
Tradisi menyediakan dan mengantarkan makanan untuk kerabat serta untuk saudara dalam Islam dan Sosial lainnya, adalah cocok dengan semangat dan makna sisi lainnya dari “idulfithri”. Yakni hari raya “fithri” berarti menyediakan makanan, “ifthar, atau fithri” (makanan berbuka). Kadang peristiwa menyiapkan kue dan makanan hari raya ini menjadi sorotan di mimbar Ramadhan. Apalagi 10 hari terakhirnya, masjid lengang. Yang ramai di mall dan swalayan serta di rumah. Mungkin menyiapkan kue hari raya dengan beraneka makanan.
Saya pikir sorotan mimbar Ramadhan dari da’i kita itu boleh saja ada. Tapi dilihat secara jernih, tradisi itu tak sepenuhnya juga, salah. Harus dipahami, menyiapkan dan mengantarkan makanan (pangan) ifthar – fithri (makanan berbuka) buat keluarga dan kerabat, bagian sepirit jihad – semangat juang juga yang patut dihargai dan tradisinya diteruskan. Gunanya memelihara hubungan kerabat dan persuadaraan di samping memenuhi harapan kerabat juga meredhakan tangisan anak minta makanan fithri (makanan hari raya fitri). Seperti juga memenuhi kebutuhan papan – kediaman rumah yang bersih untuk keluarga dan kerabat juga kebutuhan sandang – pakaian yang bersih. Tidak mesti baru, yeng penting bersih, karena hari raya juga tidak ditandai dengan ”segala hal yang baru”.
Artinya boleh saja ada sorotan “lengang masjid” tadi lantaran memenuhi kebutuahan lebaran, dapat berfungsi sebagai peringatan, asal diterima dengan kepada dingin. Mudah-mudahan wanita muslimah seiring penyiapan kue-kue dan aneka ragam pangan makanan idulfithri serta kebutuhan hari raya fithri lainnya tidak meninggalkan amal “qiyamullail” (amalan malam Ramdhan). Seperti amalan shalat tarwih, tahajjud serta shalat sunat lainnya dan membaca al-Qur’an serta i’tikaf di masjid dengan sabar dan ikhlas. Tak dapat berjema’ah di masjid, di rumahlah berjemaah. Toh…menyiapkan makanan fithri serta rumah dan pakaian yang bersih, tidak semuanya salah. Bahkan dapat menjadi bagian dari semangat perjuangan mengamalkan spirit Ramadhan dan hari raya fithri. Dan, bagian dari perintah syari’at juga, yakni mentradisikan memberi dan mengantarkan makanan. Yang salah itu, menyiapkan kebutuhan hari raya fithri meninggalkan ibadah.
“Orang Minang elok baso. Lewat di halaman, berpantang tidak berbaso, mengundang mampir di rumahnya. Selain bernilai silaturrahmi kerabat, juga bernilai persaudaraan secara luas dalam Islam (ikhwatulislamiyah). Tradisi itu, punya nilai basa basi mulia. Seperti kata petiti adat: “Naik rumah dapat air, naik “batang” dapat “tindawan” (jamur). Naik rumah tak cukup – tak senang hatinya kalau hanya mengasih air saja. Karenanya tamu disuguhi “pangacok” yakni kue-kue dan atau aneka makanan lainnya yang sudah disiapkan. Bahkan disediakan “makan besar” di hari raya itu. Setiap rumah menyediakan makanan. Hari itu harus pandai-pandai juga tamu berkunjung dan naik dari rumah ke rumah, yakni pandai-pandai membagi perutnya. Supaya bisa mencicipi makanan di setiap rumah yang dinaiki. Sebab kalau tidak minum dan tidak makan pada rumah yang dinaiki, hiba hati orang rumah. Justru mereka tulus menyiapkan makanan kepada tamunya bahkan mengantarkan makanan ke rumah kerabat. Begitulah elok baso dan baik budi orang Minang menjamu tamu.”.
Tradisi hebat menjamu tamu pertama dicontahkan Nabi Ibrahim as. Disebut dalam al-Qur’an dan Hadis-hadis Nabi SAW:
كان أول من ضيف الضيف إبراهيم عليه السلام
Kaana awwalu man dhayyafa l-dhaifa Ibarahim alaihi l-salam
Artinya: orang pertama yang (hebat) menjamu tamunya ialah Nabi Ibrahim as (ash-Shahihah, 725).
“Ingat kisah elok baso Ibrahim as menjamu tamunya makan malam. Tengah malam, tamunya datang ke rumah. Ia menjawab salam (menebar damai). Melayani dengan ramah, tak banyak tanya. Segera menghidang makanan terbaik simpanannya. Mempersilahkan tamu makan (al-Dzariyat,51:24-27). Tamunya kaget, melihat akhlak mulia Ibrahim. Tulus memuliakan tamu, meskipun larut malam, tulus menjamu tamu. Kebetulan pula, tamunya itu tidak mau makan. Ibrahim pun jadi takut pula, tapi ia tak kecewa. Ternyata tamu itu malaikat yang menyamar. Menyampaikan pesan wahyu dari Allah SWT, Ibrahim akan dianugerahi anak dari isiterinya Sarah yang semula seperti mandul”. Masya Allah, demikian balasan ketulusan memberi makan tamu.
3)Shilu l-Arham (صِلُوا الْأَرْحَامَ). Artinya memelihara hubungan tali rahim (ibu/ suku), kasih sayang orang berdusanak. Agama kita sangat menganjurkan untuk menjalin silaturrahim. Adat Minang mengikut agama, karena adat ber-sandi syara’ (Islam). Syara’ Mangato Adat Mamakai (SM-AM). Maknanya dikatakan oleh Islam dilakukan oleh adat. Apa kata syara’:
يَقْطَعُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ
Artinya:
(Orang pasik itu antara lain ialah) ….. mereka memutuskan apa yang disuruh Allah menyambung tali rahim. QS. Al-Baqarah: 26-27.
Justru tali rahim itu adalah keluarga ibu (sesuku seranji). Rahim itu berasal dari nama Allah SWT yakni Ar-Rahman. Firman Allah SWT sebagai Hadis Kursi:
أنا الله وأنا الرحمن ، خلقت الرَّحِم ، وشققت لها من اسمي ، فمن وصلها وصلته ، ومن قطعها بتَتُّه
Artinya:
(Nama) Aku Allah dan Aku Ar-Rahman. Aku jadikan Rahim (pada ibu). Aku ambil Rahim itu dari namaKu. Siapa yang menyambung hubungan tali rahim itu, Aku menyambung hubungan dengannya. Siapa yang memutus hubungan tali Rahim itu, Aku memutus hubungan dengannya. (HR Tirmidzi, Abu Daud dan Imam Ahmad).
Kata syara’ (pentunjuk Islam itu) dilakukan orang Minang sejati. Mereka yakin hubungan berdusanak itu abadi. Kalau ada pertikaian disebutnya “cabiak-cabiak bulu ayam, paruh menyelesaikan”. Tidak boleh “bakarek rotan”. Tidak bisa, mengganti suku, karean pertikaian badusanak. Artinya tidak akan pernah bisa putus. Betapa dikatakan, “putus dan mengalih suku”. “Aku alih suku !”. Tidak bisa, justru orang akan tetap berkata: “itu ibunya, sukunya sikumbang, ia dalam suku ibu itu”.
Karenanya siapa yang bakarek rotan di Minang disebut pasik. Melanggar adat, sanksi punah. Melanggal sumpah. Sesuai dengan dasar syara’, siapa yang memutus hubungan tali rahim, Allah memutuskan hubungan dengannya. Jadi, orang yang bakarek rotan berdusanak, akan termakan sumpah sati nenek moyang: “dimakan biso kewi” (dikutuk Allah yang Kawi), “tak bapucuak ke atas”. “Tak baurek ke bawah”, artinya putus hubungan tali rahim/ ibu. Disebut orang pasik. Disusul “di tangah digiriak kumbang”. Artinya punah. Tak ada ibu – padusi – perempuan, rusak kaum, habis bangsa. Karena tak ada ibu, tak akan ada yang melahirkan. Punah kaum dan punah bangsa.
Karenanya menyambung silaturrahim (tali rahim), manfaatnya luar biasa. Di dalam Islam digambarkan dalam banyak hadis. Menyambung tali rahim/ ibu, sekaligus tali nasab/ hubungan ayah: (1) memperpanjang umur (HR Ahmad: …an yumadda lahu fi ‘umrihi; HR al-Thabrani dari Ibnu Umar: ..shilaturrahmi tuzidu fi l-’umri), (2) melapangkan rezeki (HR Bukhari: … an yubsatha lahu fi rizkihi), (3) mengampuni dosa besar berbuat baik kepada saudara ibu/ khalah (HR al-Tarmidzi: qaala hal laka min khalah? Qaala na’am, qaala fabirraha , (4) terhindar dari neraka (HR Ahmad: …fa man qatha’aha harramalllahu ‘alaihi l-Jannah), lainnya.
4)Shallu billaili wa n-naasu niyamun, tadkhulu l-jannata bis-salam (صَلُّوا باللَّيْل وَالنَّاسُ نِيامٌ، تَدخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلامٍ). Artinya “kamu lakukanlah shalat malam, ketika orang tertidur, pasti kamu masuk surga dengan selamat/ nyaman”. Lanjutkan kebiasaan shalat malam seperti dilakukan pada malam-malam Ramadhan (tahajjud, witir dan shalat sunat lainnya selepas tarwih dan atau terbangun tidur).
Shalat sunnah yang paling besar pahalanya adalah qiyamul lail (diisi dengan shalat sunnat, zikir, istighfar, membaca al-Qur’an lainnya). Lanjutkan ibadah sunnat yang sudah dibiasakan di malam-malam Ramadhan itu, menandai spiritnya berbekas dalam hidup dan kehidupan kita.
Terus makmurkan masjid dengan qiyamullail, biasakan di luar Ramadhan sebagai dampak positif keberhasilan Ramdhan. Jangan masjid makmur hanya di bulan Ramadha saja. Lalu sesudah Ramadhan ini ramaikan dan makmurkan terus masjid. Perbanyak ibadah dan perkuat iman dan silaturrahmi sebagai kesalehan amal.**