Nagari Koto Rantang

  • Bagikan

Kotorantang (ditulis Koto Rantang) satu di antara nagari-nagari dalam Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Saya diceritai, Nagari ini menjadi favorit, setelah Posyantek Raflesia Jaya Bersama Nagari Koto Rantang meraih prestasi tahun 2022 sebagai juara favorit kategori Posyantek Berprestasi Tingkat Nasional 2022. Hadiah diterima langsung oleh Bupati Agam Andri Warman. Diserahkan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Abdullah Halim Iskandar di Cirebon, Oktober 2022.

Nagari Koto Rantang, seperti dilansir massmedia dan medsos, adalah mewakili Sumatra Barat terpilih mengikuti pergelaran cipta Teknologi Tepat Guna (TTG) Nasional XXIII Tahun 2022. Justru dengan Posyantek Raflesia Jaya Bersama di Nagari itu secara kreatif sukses mencipta 12 alat TTG bagi peningkatan produktifitas pertanian. Sudah pula digunakan 311 orang masyarakat petani dalam meningkatkan produksi pertanian mereka.

Nagari Koto Rantang, orbitasinya 12 km dari ibu Kecamatan Palupuh, 84 km dari ibu Kabupaten Agama dan dari Padang ibu kota Provinsi Sumatera Barat berjarak 103 km. Luasnya 42,87 km². Peduduknya (2018) 2.503 jiwa (1.239 laki-laki dan 1.264 perempuan).

Beberapa wilayah di Nagari Koto Rantang, Agam ini seperti disebut Batang Palupuah, Sitingkai, Muaro, Mudiak Palupuah lainnya, secara topografik letaknya bagaikan wilayah koto yang merentang (memanjang). Berdasarkan orbitasi koto yang merentang itu secara monografik wilayah ini dinamakan Koto Rantang. Sekarang dikenal Nagari Koto Rantang.

Dari perspektif pemerintahan, Nagari Koto Rantang mempunyai wilayah pemerintahan 4 jorong. Empat jorong yang dulu pernah desa itu adalah: (1) Batang Palupuh, (2) Sitingkai, (3) Muaro dan (4) Mudiak Palupuh. Sudah mempunyai sejarah pemerintahan yang panjang, dalam rentang waktu 1908- sekarang. Dicatat, sudah ada sejarah 31 Kepala desa dan atau Wali Nagari. Pertama Inyiak Dt. Sagalo Amuah (suku Pili, Batang Palupuah) tahun 1908-1920. Terakhir Inyiak Wali Nagari Novri Agus Parta Wijaya, menggantikan Wali Nagari Mairefni (Pjs, suku Pili) Koto Rantang (2020-2021). Mairefni menggantikan Inyiak Wali Sy.Dt. Batuduang Dilangik (suku Pili) Koto Rantang (masa bhakti 2014-2020).

Nagari Koto Rantang, mempunyai service centre SDN 4 unit, SMPN 1 unit, Puskesmas Pembantu 1 unit dan 1 unit Polindes lainnya. Dimungkikan terdapat Daerah Tujuan Wisata (DTW) baik wisata alam, maupun wisata budaya dan sejarah “nan tasuruak” dalam bentuk situs lainnya yang perlu ditemukan sejalan yang berkaitan asal usul penduduk Nagari.

Asal Usul dan Monografi Nagari

Asal Usul dan monografi sudah dimusyawarahkan ninik mamak Nagari Koto Rantang. Permusyawaratan itu, diselenggarakan secara bertingkat oleh Ninik Mamak Nan 45 bersama Pemerintahan Nagari (12 Desember 2021). Mulai dari (1) Ninik mamak Nan-25 Dikato – Batang Palupuah – Sitingkai (28 November 2021), (2) Ninik Mamak Nan-14 Dikato Muaro (17 Desember 2021) dan (3) Ninik Mamak Nan-6 Dikato – Mudiak Palupuah (10 Desember 2021). Juga Monografi Koto Rantang ini sudah pula ditulis Dr.H.Darwis SN, MS.APU sebagai bagian penting dalam bukunya: Front Palupuah Dalam Perjuangan Kemerdekaan.

Dari sumber Ninik Mamak -45 Dikato Koto Rantang seperti juga disebut Efrizon Dt. Inaro (2022) bahwa asal usul penduduk Koto Rantang datang dari Gadut, Tilatang Kamang, Biaro dan Palembayan. Mereka datang bergelombang. Pertama datang dari Tilatang Kamang, mereka mencari lahan baru berladang. Lalu ditemukannya banyak batang bambu jenis betung, bagus untuk menganyam palupuh (pelupuh). Digunakan untuk dinding dan lantai pondok di ladang. Wilayah pengambilan betung palupuah (pelupuh) itu dinamakan dengan Batang Palupuah (Batang Pelupuh) sekarang adalah jorong.

Inyiak ke Batang Palupuah

Inyiak yang merintis Jorong Batang Palupuah ketika itu (abad ke-17) belum bergelar datuk. Di antaranya: (1) Inyiak bergelar Maleka Nan Tuo (Suku Pili dari Kapau) bermukim dibukit Parumahan. Lokasi yang ditandai/ ditunjuk sebelumnya dari Manggis Rimbo sampai Anak Aia Batu Jolang; (2) Inyiak bergelar Kali Sati (suku Sikumbang dari Gadut) berlokasi mukim di Alang Laweh – Tonggo Parak Mudiak. Lokasi yang ditunjuk dari Anak Aia Batu Jolang sampai Anak Aia Kapau dan (3) Inyiak bergelar (Bandaro) Sinaro Basa (suku Tanjung dari Gadut/Sungai Talang) tinggal di Bukit Monjong. Kawasan yang ditunjuk sebelumnya Hutan Tinggi dari Bukit Dama Putiah sampai ke Pinang Sabatang Anak Aia Sarasah.

Tak lama kemudian, gelombang kedua, berjumlah 70 orang (orang nan-70) dipimpin 4 Inyiak ke Batang Palupuah. Mereka (1) Inyiak bergelar Rajo Nan Sati (suku Jambak), (2) Inyiak bergelar Panduko Rajo (suku Simabua), (3) Inyiak bergelar Rajo Nan Panjang (suku Tanjung) dan (4) Inyiak bergelar Mangkuto (suku Koto). Mereka kemudian membangun wilayah taratak (satu suku), dusun (dua suku), koto (tiga – empat suku) sebagai sentra sukunya adalah kampung lalu dipromosikan menjadi nagari nan bakaampek suku (mempunyai 4 suku, setidaknya).

Diceritakan inyiak-inyiak yang datang ke Batang Palupuah itu bersumber dari ninik mamak yang menguasai monografi nagari. Di antaranya sumber cerita A.Dt.Maleka Nan Tinggi (suku Pili), N.Dt. Rajo Nan Panjang (suku Tanjung), Z.Dt.Maleka Nan Tuo (suku Pili), Basa Baranam (Basa Nan-6), ulama H.I.T Tk.Sajatino (suku Pili) dan Sy.Dt.Sampono Ameh lainnya.

Dicertiakan, mereka yang datang dari Tilatang menebang betung sebagai bahan membuat palupuah digunakan untuk dinding dan lantai pondok dan atau rumah tinggal. Ada betung yang tersangkut. Ditarik, batang betung itu berbuai-buai, maka wilayah itu dinamakan dengan “Batuang Babuai” (betung berbuai). Kemudian betung yang berbuai tadi jatuh ke dalam batang air, lalu dibawa arus ke hilir melalui Lubuk Bonjol dan masuk ke pusaran air. Di pusaran air itu di muara (muaro), batang betung itu bapesong-pesong (berputar-putar), maka peristiwa betung bapesong itu, menjadi nama wilayah Lubuak Pesong. Sedangkan wilayah arah bapesong ke muaro (muara) itu wilayahnya disebut dengan Muaro (Jorong Muaro). Kemudian batuang itu hanyut juga tepatnya sampai di belakang Surau Gadang dan terdampar di sana. Batuang yang terdampar itu dipungut dan diolah menjadi anyaman palupuah, maka wilayah tempat mengolah anyaman palupuah itu disebut dengan Palupuah. Lalu produk palupuah itu dibawa ke mudik untuk jadi lantai dan dinding rumah, maka wilayah mudik itu disebut Mudik Palupuah (sekarang Jorong Mudik Palupuah).

Sumber Ninik Mamak Nan-6 Dikato Mudiak Palupuah, menyebut bahwa penduduk datang secara bergelombang. Pertama mereka datang ke Mudiak Palupuah ialah keturunan 4 Inyiak. Mereka keturunan Inyiak Dt.Nan Labiah, Inyiak Dt. Nan Hijau, Inyiak Dt. Kayo dan Inyiak Dt. Maruhun. Disebutkan, mereka pupuih (habis). Kemudian gelombang berikutnya disebut keturunan inyiak-inyiak yang tertarik ke Mudik Palupuah itu. Pada mulanya hendak mencari sayur “sikujua” muda yang kaya antioksidan itu subur tumbuh di situ dan wilayahnya menarik untuk pemukiman. Mereka tertarik dengan potensi daerah ini. Lalu niniak dari Kamang, beriringan datang ke sana. Mereka bersuku Koto, Payobada, Sikumbang dan Jambak. Gelombang berikutnya datang pula keturunan Inyiak Dt.Majo Indo payung suku suku Koto dari Palembayan.

Di lain sisi Niniak yang datang ke Jorong Muaro, gelombang pertama disebut sumber Ninik Mamak Nan-14 Dikato Muaro, berasal usul dari Kamang, suku Tanjung payung Inyiak Dt.Rajo Nan Panjang. Gelombang kedua, datang dari Palembayan, suku Koto payung Inyiak Dt.Putiah. Juga dari Biaro suku Koto payung Inyiak Dt. Rajo Api. Gelombang ketiga ke Muaro datang empat suku lagi dari Kamang, Palembayan dan Biaro. Keempat suku itu: (1) suku Payobada, (2) Suku Pisang, (3) Suku Pili dan (4) Suku Sikumbang.

Inyiak ke Sitingkai

Berbeda dengan niniak/ inyiak yang datang dari Tilatang Kamang tadi, inyiak yang datang dari Gadut dan Kapau, sudah ada yang menetap dan bertani di Sitingkai. Mereka membuka lahan (cancang latiah) sebagai lahan untuk bertani. Di lokasi itu ditemukannya bunga setangkai (satangkai, sitingkai), maka wilayah itu dinamakan Satangkai, kemudian disebut Jorong Sitingkai.

Mereka yang datang ke Jorong Sitingkai pertama ialah Inyiak Dari Gadut dan Kapau. Bersumber sejarah Nagari Koto Rantang mengutip Inyiak I.Dt.Mangkudun, Inyiak M.Dt. Basa, Inyiak K.Dt.Maleka Nan Gadang dan Inyiak D.Dt.Majo Labiah (rapat Ninik Mamak Nan-25 Dikato Batang Palupuah-Sitingkai, 22 November 2021), menyebut, rute masuk mereka ke Sitingkai, adalah melalui Bukik Paninjauan. Justru Paninjauan dikelola menjadi dusun sekarang disebut Jorong Sitingkai. Inyiak I.Dt.Mangkudun menyebut orang pertama menetap di Jorong Sitingkai ialah “Urang Tambang” payung Angku Malelo Alam (suku Simabua). Mulanya mereka membuka DAS Sungai Batang Sianok – Jorong Sitingkai. Disebut pula keturunannya pupuih (pupus, habis).

Gelombang kedua datang ke Sitingkai sumber Inyiak M.Dt.Basa ialah 4 Inyiak pula. Mereka (1) Inyiak bergelar Dt.Majo Sati (suku Jambah) juga pupuih, (2) Inyiak bergelar Dt. Pado Sutan (suku Sikumbang) juga pupuih, (3) Inyiak bergelar Dt. Maleka Nan Gadang (suku Pili) dan (4) Inyiak bergelar Dt. Sampono Kayo (suku Koto).

Gelombang ketiga ke Sitingkai berturut-turut, datang keturunan Inyiak Dt.Basa (suku Koto), Inyiak Dt.Tan Marajo (suku Simabua), Inyiak Dt. Batu Basa (suku Payo Bada), Inyiak Dt.Majo Labiah (suku Pili), Inyiak Dt.Tanameh (suku Tanjuang) dan Inyiak Dt.Mangkudun (suku Sikumbang).

Adat Syara’ Koto Rantang

Nagari Koto Rantang selain maju di bidang penciptaan Teknologi Tepat Guna (TTG) Pertanian, juga disebut Nagari yang aktif mengembangkan sumber daya toga (tokoh agama) dan todat (tokoh adat) sebagai pemangku adat di nagari itu. Pengembangan SDM Toga di antaranya Nagari Kota Rantang mengadakan pelatihan guru-guru TPQ (22 Februari 2021). Justru tahun 2021 itu Nagari menyediakan anggaran pelatihan dan bantuan insentif guru TPQ sebanyak Rp. 39.421.000 dan setiap guru TPQ diberi insentif Rp. 250.000 setiap bulan.

Di aspek pengembangan SDM tokoh/ pemangku adat, terakhir Nagari Koto Rantang mengadakan sosialisasi nilai-nilai adat dalam bentuk kegiatan Diskusi Panel mengenai Revitalisasi Nilai Adat, Penguatan Pemangku Adat. Diskusi bertajuk Revitalisasi Nilai-Nilai Adat, Gelar Sako Dan Harta Pusako. Diskusi dilaksanakan Kamis 24 November 2022 di Aula Kantor Wali Nagari.

Diskusi revitalisasi nilai-nilai adat, berjalan seiiring dengan nagari tetangganya, yakni Nagari Pagadih besoknya Jum’at 25 November 2022. Kedua Nagari yang dihelat secara terpisah itu, menghadirkan 4 orang narasumber berbasis Yayasan SAKO. Keempat narasumber tersebut ialah saya sendiri Yulizal Yunus Datuak Rajo Bagindo, Hasanuddin Datuak Tan Patiah, Januarisdi Rio Mandaro dan Efrizon Datuak Inaro. Kegiatan adat ini surprise ditulis Afrizal wartawan bandasapuluh.com, 26 November 2022 dalam tajuk, 2 Nagari di Palupuh Agam Gelar Diskusi Adat Minangkabau.

Wali Nagari Koto Rantang Novri Agus Parta Wijaya menyebut bahwa kegiatan diskusi adat ini digelar untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan adat. Sekaligus menyamakan pemahaman dalam menggiatkan revitalisasi nilai-nilai adat, terutama tentang gelar sako dan harato pusako.

Justru gelar sako berdiri di atas pusako, berdasarkan nilai adat syara’. Habis pusako lenyap sako pusako salingka kaum. Habis Sako Pusako, maka lenyap pula adat salingka nagari. Habis Adat salingka nagari, maka habis pula adat nan sabatang panjang yang juga di nagari sebagai pedoman adat salingka nagari. Habis nagari dan adatnya, maka lenyaplah Minangkakabau. Justru nagari itu inti Minangkabau, sebut 4 narasumber sebagai hal yang inti dalam presentasi mereka tentang pengetahuan adat Minangkabau.

Dengan santun Wali Nagari menyebut narasumber dan sambutan Wali Nagari dan Ketua KAN, bukan untuk menunjukajari niniak mamak. Justru tujuannya adalah untuk penguatan dan penyamaan pemahaman serta disiapkan sebagai wadah untuk belajar bersama.

Dengan kegiatan diskusi adat ini diharapkan semakin kuat pemahaman bersama untuk menghadapi berbagai masalah masyarakat adat kedepan. Bahkan kegiatan ini menjadi bagian perwujudan pelaksanaan visi Nagari Koto Rantang yaitu nagari maju berdasarkan Adat Basandi Syara’-Syara’ Basandi Kitabullah. Karenanya, kita terus mendorong perencanaan dan pelaksanaan berbagai program kegiatan, terutama adat syara’ dalam kerangka mewujudkan visi Nagari, kata Wali Nagari Novri dikutip Afrizal dari bandasapuluh.com.***

  • Bagikan