Di USG

Cerbung no 217
// Yulizal Yunus
Batuk dan batuk.  Wati rusuh sejak beberapa hari lalu. Keras dan kering, batuknya tak juga mau berhenti. Di ranjang putih ruang perawatan, tubuhnya tampak lelah, tapi matanya masih menyimpan cemas yang lebih melelahkan daripada batuk itu sendiri.

“Batuk ini, Bunda… keras dan kering,” katanya lirih.

“Saya sudah periksa di klinik paru – setelah ke klinik saraf bersama dr Jessi. Sudah minum obat resep dokter,” lanjutnya cepat, seakan takut keluhannya dianggap sepele. “Awalnya diduga Tibi (TBC). Dicek di laboratorium… alhamdulillah ternyata negatif.” “Kita sudah siap-siap pula diisolasi”.

Ia menarik napas pendek, lalu menoleh ke arah Bunda Eel yang duduk di samping ranjang. “Teman saya parunya berair akibat penyebaran kankernya. Disedot. Eeee umurnya tidak panjang…” ucap Wati, suaranya bergetar. Cerita adiknya Wati ini didengar Bunda Eel seksama— sambil menyelami rasa ketakutan adiknya.

Bunda Eel tersenyum tenang. Senyum yang tidak menghakimi, tidak pula mengabaikan.
“Batuk itu biasa, Wati adikku sayang. Tugas kita berobat. Yang menyembuhkan, bukankah Tuhan?” katanya lembut.
“Rabb kita berfirman, bila aku sakit, Dia (Allah) yang menyembuhkan. Tak harus kita menduga-duga. Biar dokter yang periksa. Nanti kita USG.”

Kecemasan tak langsung hilang, tapi kata-kata itu seperti selimut tipis yang menutup dada Wati.

Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu.
“Masuklah,” kata keluarga.

Seorang dokter perempuan melangkah masuk dengan senyum ramah.
“Eh, dokter cantik Venti,” sapa Bunda Eel, direktur rumah sakit itu.

“Ya, Bunda… Venti tahu Bunda ada di sini,” jawab dokter itu hangat.

“Bu Wati bagaimana? Masih ada keluhan?” tanya dr Venti.

“Ya, Dok,” Wati tersenyum. “Tapi melihat dokter cantik datang saja rasanya sudah sembuh”. “Batuk ini tak henti-hentinya, Dok… paru kah?”

Dr Venti tersenyum, tidak tergesa, tidak menakut-nakuti.
“O ya, kita USG ya.”

Perawat Sri mendorong alat Ultrasonografi ke sisi ranjang. Gel dingin dioleskan. Berfungsi memaksimalkan transmisi energi, melumasi, melembapkan area tubuh yang dijelajahi Gel. Layar menyala. Gelombang suara bekerja tanpa radiasi, menampilkan organ-organ dalam secara nyata—hati, ginjal, jantung—semua diperiksa dengan tenang dan teliti oleh dr. Venti Ahli Paru itu sambil men-save gambar yang dibutuhkan pemeriksaan.

Beberapa saat kemudian, dr Venti mengangguk dan tersenyum.
“Wah, cukup bagus tuh parunya,” katanya.

Bunda Eel tersenyum lega. “Selesai itu oleh dokter,” ujarnya pelan. “Tak apa. Semoga Allah menyembuhkan.”

Wati menutup mata sejenak. Ia sadar, betapa pikirannya tadi berlari terlalu jauh—menduga-duga penyakit yang tak ia pahami, membiarkan cerita orang lain menjadi vonis bagi dirinya sendiri.

Hari itu, di ruang kerja USG, ia belajar satu hal: sabar lebih menenangkan daripada prasangka. Dan, ilmu lebih layak dipercaya dari pada ketakutan. (Bersambung).**

Exit mobile version