Berita  

Alirman Sori dalam Membuka PKM 17 Edisi IV Pertujukan Tari Buai-Buai Padang: Merajut Kebhinekaan dengan Event Kebudayaan

Alirman Sori didaulat berfoto dengan seniman-seniman penari buai-buai Palito Nyalo Padang

FIKIR.ID – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatera Barat Alirman Sori menyebut tugas bangsa yang tak boleh berhenti ialah merajut, membingkai dan memperkuat rasa kebhinekaan. Tugas ini dapat dilakukan dalam berbagai event termasuk kegiatan kebudayaan masyarakat.
“Kegiatan pertunjukan seni budaya langka PKM 17 ini dapat dijadikan momentum merajut dan membingkai serta memperkuat rasa kesatuan dan persatuan dalam kerangka kebhinnekaan kita sebagai warga negara”. Hal ini dikatakan Alirman Sori dalam membuka sekaligus memberi sambutan pertunjukan PKM-17 yang menampilkan seni tradisi langka Tari Buai-Buai pruduksi Sanggar Palito Nyalo Padang di Nan Jombang Dance Company, Padang,
Senator asal Sumbar itu mengatakan, kebudayaan itu tidak berdiri sendiri dan memiliki kaitan dan hubungan dengan budaya daerah lain. Seperti Tari Buai-buai, katanya, memiliki hubungan dengan Kerajaan Indrapura dan Kerinci.

“Seperti yang disampaikan Da Yul (red: Yulizal Yunus) tadi dalam mengantar acara ini, justru tari buai-buai ini berasal dari warisan Kesulitan Indrapura masa jayanya abad ke-15-18. Artinya, budaya itu tidak berdiri sendiri dan saling berkaitan satu sama kainnya”
“Dengan pertunjukan seperti ini dari yang tidak tau atau samar-samar itu, ditemukan dan ternyata ada kaitan satu sma lain. Ini kan luar biasa, seni budaya saja memberikan pengetahuan merajut dan membingkai kebhinekaan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kebhinekaan merupakan kekuataan bangsa Indonesia yang sebenarnya. Republik Indonesia, lanjutnya, terbentuk dari kebhinekaan atau kemajemukan itu. “Kita terbentuk sebagai negara kesatuan tidak dari satu suku maupun agama. Dan kenyataan itu tidak bisa kita tolak,” papar pria yang akrab disapa dengan singkatan namanya Also yang terakhir kita dengar dipercayai sebagai pansus Undang Undang ciptaker.
Rasa Kebhinnekaan Lemah Indonesia Terbelah
Ketua Badan Sosialisasi MPR RI dari unsur DPD RI itu pun prihatin terhadap kondisi kebangsaan saat ini yang semakin berkurangnya rasa kebhinekaan. Ia khawatir Indonesia akan terbelah, kalau dibiarkan masyarakat lemah rasa kebhinekaan yang sudah diwariskan para penjuang dan pendiri NKRI ini.

Untuk memperkuat rasa kebhinnekaan itu, penting upaya peningkatan komitmen berbangsa dan bernegara melalui empat pilar kebangsaan ini. Artinya peningkatan rasa kebhinnekaan itu harus menjadi komitmen kebangsaan yang harus dikembangkan,” pungkas Alirman Sori.
Tari Buai-buai satu kesatuan dengan cabang seni langka Rantak Kudo dan Benten.
Sebelumnya, Sekretaris Umum (Sekum) Pusat Kebudayaan Minangkabau (PKM) Dr Yulizal Yunus M Si Datuak Rajo Bagindo dalam sepatah kata membentangkan tikar pertunjukan PKM 17, mejelaskan sejarah dan filosofi Tari Buai-buai yang dikembangkan di Pauh Padang.

Yulizal mengutip sumber Hendri Yusuf seniman pelatih/penari dan mantan Ketua Palito Nyalo. Katanya kepadas Fikir.id, sejarah Tari Buai-Buai itu punya kaitan dengan beberapa tari tradisonal innya. “Menurut yang saya terima dari Kakek, kata Hendri berasal dari Pesisir Selatan. Nama lainnya Tari Buai-Buai ini Tari Sikambang. Berawal dari keseharian Sikambang Manih mainang anak rajo. Mengasuh dan menatah-tatah anak rajo. Dibuai-buaian, didendangkan”, sebut Hendri ditiruksn Yulizal dosdn yang mengajar Kebudayaan Masyarakat Indonesia itu.

Melihat konten Tari Buai-buai, memperkuat pandangan bahwa seni tradisi ini tidak berdiri sendiri, ada kaitan antara satu dengan yang lain. Ery Mefri maestro seni pertunjukan setidaknya pernah menyebutnya begitu, tukuk Yulizal yang peneliti dan penulis sejarah itu.


Tari Buai-buai berkaitan Tari Benten


Jadi, kalau dihalus-halusi, melihat hubungan antara satu seni tradisi langka dengan seni tradisi lainnya di Minangkabau, sering terlihat kaitannya dalam konten cerita terutama dalam hubungan ibu dan anak. Ini bagian dari pengalaman cintoh merajut kebhinnekaan masyarakat bangsa. Jadi, kata Yulizal selanjutanya, tanpa disadari besar dugaan Tari Buai-Buai ini seperti tadi disebut berawal dari Pesisir Selatan. Berkaitan erat dengan Tari Rantak Kudo versi Tari Benten warisan Kesultanan Indrapura sejak masa jayanya abad ke 15-17. Fakta sentuhan dan kaitannya adalah pada informasi, seorang dayang Putri istana Indrapura bernama Beten yang bersuami Adau-adau, mempunyai anak bernama Buai-Buai di samping dua anaknya yang lain Rantak Kudo dan Nandi-Nandi.

Kadisbud Provinsi Sumatera Barat Syaifullah dan Yulizal Yunus Sekum PKM

Ibu Benten yang menjadi nama Tari Benten. Mengisahkan seorang ibu bernama Benten. Suaminya bernama Adau-Adau. Punya dua orang anak, bernama Rantak Kudo, Nandi-nandi dan Buai-Buai. Dalam Tari Buai-buai di Padang maupun Tari Benten warisan Inderapura yang dipertunjukkan PKM 17 Desember yang lalu menggambarkan gerakan aktifitas ibu mengasuh dan menimang bayi dalam buai-buaian.

Sampai sekarang, nyanyi yang mengiringi tari Buai-Buai, fakta hubungannya dengan Tari Bentan disebut kata dalam Langkah rantak kudo dan nandi-nandi, di samping Buai-Buai, anak dari Benten. Malah dari sisi konten juga kedua tari ini mirip nafas asuh anak pada Tari Ouduo Omak produksi Muara Performing Arts Group Pekan Baru yang pernah Tampil Hutlah Nan Jombang Dance Company awal November 2021 lalu.

Mencermati seni tradisi Tari Buai Pauh IX Padang dan hubungan dengan seni tradisi melayu dalam hal konten mengasuh anak, maka kaitannya dengan Tari Benten Warisan Indrapura tadi menginspirasi kita, kembali buka sejarah.
Sentuhan Sejarah Inderapura dsn Pauh
Dalam ranji lama Rajo Indrapura dan Keturunan Rajo Putih Pauh suku melayu sampai Kerajaan di Pariaman disebut berkerabat anak rajo Pagaruyung juga. Ranji masih tersimpan Dt Rajo Putih di Pauh dan di Pewaris Kesultanan Indrapura, sebut Yulizal

Di Kesultanan Indrapura inilah dulu seorang ibu bernama Benten yang beranak Buai-Buai itu selalu menari membuai anak rajo, membuat Raja tertarik dan diresmikan gerak dan nyanyiannya menjadi tari Benten dipertunjukkan dalam alek Raja macah galanggang 7 hari 7 malam.

Tak salah lagi, kata Yulizal, disebut orang tua-tua di Pauh tari Buai-Buai ini pada awalnya barasal dari Pasisir Salatan, dimungkinkan dari Indrapura. Kemudian tari ini berkembang di Padang kawasan Pauh.*

Turut memberi sambutan pada PKM 17 edisi IV itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Padang diwakili Amriman dan Kadis Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat Saifullah. Dihadiri banyak penonton serta peminat seni secara langsung di Nan Jombang dan secara siaran langsung Nagari TV dan streaming youtube PKM.

Exit mobile version