Budaya  

Digelar 11–12 April 2026, Alek Gadang Istana Silindung Bulan Pagaruyung Manjalang Induak Kaum Malayu Koto Tuo

FIKIR.ID — Alek Gadang “Manjalang Induak” Kaum Suku Malayu Koto Tuo Batangkape Banda X Kerabat Pagaruyung digelar Sabtu–Ahad, 11–12 April 2026 di Istana Silinduang Bulan.

Perhelatan besar adat ini diagendakan setelah memperoleh persetujuan YM Puti Reno Prof. Dr. Raudha Thaib Yang DiPertuan Gadih Istana Silinduang Bulan Pagaruyung, serta restu dari YM Daulat Yang DiPertuan Rajo Alam Minangkabau Darul Qarar Pagaruyung, Sultan Dr. Muhammad Farid Tuanku Abdul Fatah.

Persetujuan YM Puti Reno dan restu YM Daulat YDP Rajo Alam tersebut dikemukakan dalam Acara Duduk Basamo (ADB) yang berlangsung pada 1 Februari 2026 di Istana Silinduang Bulan Pagaruyung, sebagai bagian penting dalam tatanan adat sebelum pelaksanaan alek gadang.

YM Puti Reno Prof. Dr. Raudha Thaib Yang DiPertuan Gadih Istana Silinduang Bulan Pagaruyung, menyatakan senang, anak kaum suku malayu merantau ke Koto Tuo Batangkape Banda X kerabat Pagaruyung tasabuik dalam ranji Limbago Pagaruyung, seperti beberapa kerabat lainnya, sudah lama tak pulang tak terhitung masa, kini kembali pulang manjalang induk.

Betapa membahagiakan mandeh bahwa anaknya pulang ke rumah asalnya Silinduang Bulan Pagaruyung. Patutlah mandeh menantinya dan memparalekannya. Apalagi anaknya dari kaum Suku Malayu Koto Tuo lebih senang memilih dan suka alek gadang menyembelih kerbau yang dilaksanakan mandehnya di Istana Silinduang Bulan Pagaruyung.

Senangnya anak senangnya mandeh, pintu rumah asal Istana Silinduang Bulan senantiasa terbuka bagi pulangnya anak dan kerabatnya, kata Mandeh Sako Puti Reno.

Di bagian lain YM Daulat Yang DiPertuan Rajo Alam Minangkabau Darul Qarar Pagaruyung, Sultan Dr. Muhammad Farid Tuanku Abdul Fatah, selain menyatakan restu, merasa bangga kemanakan pulang ke rumah induaknya dan manjlang mamak.

Kiranya alek gadang Silinduang Bulan Pagaruyung “manjalang induak” ini oleh kemenakan dari Kaum Malayu Koto Tuo Kerabat Pagaruyung ini, menjadi momentum penguatan hubungan kerabat Pagaruyung dan rumah asalnya selalu terbuka menanti kemenakan pulang manjalang induak dan mamaknya.

Peristiwa adat seperti ini, kata Daulat Sultan, bukanlah yang pertama terjadi di Istana Silinduang Bulan, hampir setiap saat. Dalam perjalanan sejarahnya, rumah asal ini telah menerima berbagai kunjungan kerabat dari berbagai wilayah Nusantara dan bahkan dari berbagai wilayah belahan dunia internasional basis rantau dan diaspora Rang Minang.

Salah satu peristiwa besar yang punya esensi sama dengan kaum Malayu Koto Tuo Kerabat Pagaruyung “manjalang induak” ke Istana Silindung Bulan ini, adalah upacara sakral adat menanti kerabat kaum YM Edward Syah Pernong, Sultan Sekala Brak ke-23 dari Lampung yang juga disebut Ranji Limbago.

Upacara sakral adatnya ketika itu dinamakan “Anjau Silau Kerabat Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak, Kepaksian Pernong Lampung ke Kesultanan Pagaruyung Darul Qarar,” pada 16 Juli 2016.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Pagaruyung sejak dahulu merupakan tempat pulangnya pangulu-pangulu nagari bapangulu, rajo-rajo nagari barajo serta Kerajaan-kerajaan Federasi Kerabat di kawasan Nusantara dan dunia.

Tempat bertemu adat budaya dan musyawarah dusanak susur galur “tali rahim dan tali nasab” sesuai garis keturunan yang menjadi asal usul.

Sebelunya, Suku Malayu Koto Tuo Kerabat Pagaruyung sudah melakukan konsolidasi adat perluasan kaum, dengan penyelenggaraan alek gadang kerapatan ninik mamak, melewakan mandeh paruik Ietje Rizal Sini manapek ke kaum.

Rangkaian kegiatan ini diselenggarakan 18 November 2025. Pada alek yang dilaksanakan ditandai penyembelihan jawi (sapi) sebagai tanda dimulainya hajatan adat kaum Malayu dari paruik ibu Ietje jadi rang Minang. Menghadiri alek “manapek” ibu Ietje itu, Kaum Malayu Koto Tuo maucok – mengundang alek mulai dari kerabat kaum, tetangga kaum Suku Melayu di Koto Tuo dan Batang Kapas dan ninik mamak nagari lainnya di Banda X Kerabat Pagaruyung lainnya.

Kegiatan awal tersebut dipusatkan di Rumah Mandeh Sako Marlina. Rumah mandeh ini berfungsi sebagai Rumah Gadang kaum di Koto Tuo Batangkape Banda X.

Dalam suasana sakral upacara adat kerapatan ninik mamak, diisi dengan pelewaan adat manapek Ietje Ika Suwarsih Rizal Sini menjadi rang Minangkabau dalam Suku Malayu Koto Tuo Batangkape Banda X Kerabat Pagaruyung terdapat dalam Ranji Lumbago Pagaruyung.

Kelanjutan upacara sakral adat kerapatan ninik mamak Kaum Suku Malayu Payung Datuk Sampono Batuah, diselenggarakan acara puncak di Istana Pagaruyung, yakni Alek Gadang “Manjalang Induak” oleh Kaum Malayu Koto Tuo Batangkape Banda X Kerabat Pagaruyung. Pelaksanaan alek gadang “manjalang induak” ini, merupakan penguatan dan penyempurnaan prosesi adat upacara sakral adat Kaum Malayu Koto Tuo sebelumnya.

Sebelum dilaksanakan alek gadang itu, rombongan anak kemenakan kaum Malayu Koto Tuo, telah menemui dan duduk bersama dengan induaknya Puti Reno untuk menetapkan konsep dan teknis acara upacara adat baralek gadang dan memperoleh legitimasi adat, sekaligus memohon restu Daulat Rajo Alam. Proses pebicaraan terknis ini sudah berlangsung dalam beberapa kali rapat kaum Malayu di Koto Tuo dan Pagaruyung.

Ikut hadir dalam duduk bersama 1 Februari 2026 itu perwakilan Kaum Suku Malayu Koto Tuo Batangkape Banda X Kerabat Pagaruyung, yakni Mandeh Sako dr. Helgawati dan mamak Joni Iskandar Sampono Batuah.

Turut mendampingi para rang sumando, antara lain Ir. Priyanto, MM (Banda Palangai Banda X Kerabat Pagaruyung juga), Dr.YY Dt. Rajo Bagindo, MSi (Banda Taluk, Banda X kerabat Pagaruyung juga), serta Tuanku Bosa XV (cand Dr) Ir. Jhonny ZA dari Kerajaan Kerabat Kebuntaran Talu (sumando dari kuam Kampai Banda Kambang Banda X Kerabat Pagaruyung juga).

Sementara dari pihak kaum malayu Koto Tuo paruik Ibu Ietje, diwakili oleh timnya dari Jakarta.
Pengaturan teknis alek gadang, termasuk jadwal dan bentuk kegiatan seperti penyembelihan kerbau, ditetapkan melalui koordinasi panitia bersama dan dukungan event organizing, agar pelaksanaan berjalan tertib sesuai protokol adat.

Inti dari Alek Gadang ini adalah pelewaan adat terhadap Bundo Ietje bersama putrinya Renobulan Rizal Sini Suheimi sebagai induak dalam Kaum Suku Malayu Koto Tuo Kerabat Pagaruyung. Prosesi tersebut ditandai dengan pemasangan selendang oleh Puti Reno Prof. Dr. Raudha Thaib Yang DiPertuan Gadih Istana Silinduang Bulan Pagaruyung.

Selain itu, dianugerahi pula gelar kebesaran adat Minangkabau kepada tiga kamanakan lahir dari paruik ibu Ietje:
• Ivan Rizal Sini sebagai Rajo Sampono Alam
• Mesha Rizal Sini sebagai Sutan Sampono
• Rito Alam Rizal Sini sebagai Sutan Batuah

Penganugerahan gelar ini dilewakan langsung oleh Daulat Yang DiPertuan Rajo Alam Minangkabau Darul Qarar Pagaruyung Sultan Dr. Muhammad Farid Tuanku Abdul Fatah, ditandai pemasangan selempang sekaligus menghimbaukan gelar tersebut di pasa nan rami dan labuah nan golong, dimulai dari kerapatan di Istana Silinduang Bulan.

Seluruh proses adat diharapkan dengan Rahmat Allah swt berjalan sesuai prinsip adat syara’ “karajo bapokok silang bapangka” dengan pembagian tugas “ganggam bauntuk, pegang bamasing”, yang menegaskan peran masing-masing unsur dalam kaum dan kerabat.

Alek Gadang ini tidak hanya menjadi simbol pengukuhan gelar, tetapi juga memperkuat tali kekerabatan serta meneguhkan kembali jati diri Kaum Suku Malayu sebagai bagian penting dari ranji limbago Pagaruyung—suku basis dalam sejarah raja-raja Minangkabau di Pagaruyung, tegas Daulat Rajo Alam.